Sulastri dan Empat Lelaki
Sulastri dan Empat Lelaki
Karya M. Shoim Anwar
Karya sastra merupakan suatu hasil karya manusia baik lisan maupun nonlisan (tulisan) yang menggunakan bahasa sebagai media pengantar dan memiliki nilai estetik (keindahan bahasa) yang dominan. Karya sastra juga diartikan bahwa ungkapan perasaan manusia yang bersifat pribadi yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakinan dalam bentuk gambaran kehidupan yang dapat membangkitkan pesona dengan alat bahasa dan dilukiskan dalam bentuk tulisan. Karya sastra memiliki beberapa jenis, yaitu puisi, pantun, roman, cerpen (cerita pendek), dongeng, legenda, dan naskah drama. Salah satu jenis karya sastra yang saya akan bahasa berikut ini yaitu cerpen yang berjudul Sulastri dan Empat Lelaki karya M. Shoim Anwar.
Cerpen yang dimana seperti kita ketahui bahwa cerpen atau cerita pendek merupakan jenis karya sastra yang dijelaskan dalam bentuk tulisan yang berwujud sebuah cerita atau kisah secara pendek, jelas, serta singkat. Selain itu cerpen juga dapat disebut dengan sebuah prosa fiksi yang isinya mengenai pengisahan yang hanya terfokus pada satu konflik atau permasalahan. Salah satu cerpen karya M. Shoim Anwar yang berjudul Sulastri dan Empat Lelaki merupakan salah satu karya sastra yaitu cerpen. M. Shoim Anwar yaitu salah satu dosen sastra yang bertugas di Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. Beliau dijuluki Sang Doktor Cerpenis, karena beliau banyak menulis karya sastra mulai dari cerpen, puisi, novel, esai, dan puisi di berbagai media. Cerpen-cerpenya dimuat dalam antologi berbahasa Indonesia, Inggris dan lain-lain. Saya sebagai salah satu mahasiswa didikan beliau dari Universitas PGRI Adi Buana jurusan Bahasa Indonesia, dari semester 3 sampai saat ini yaitu semester 8. Berikut ini saya akan ulas atau mengkaji salah satu cerpen dari Sang Doktor Cerpenis dari berbagai aspek yang dikaji.
Saya membaca cerpen yang berjudul Sulastri dan Empat Lelaki sudah 3 kali, saya melihat dan merasakan bahwa cerpen ini merupakan salah satu cerpen yang memiliki kaitannya dengan beberapa aspek di kehidupan yang realita saat ini. Alur yang digunakan pada cerpen ini yaitu alur maju mundur atau campuran. Cerpen ini memiliki 3 tokoh, dimana tokoh utama yang bernama Sulastri. Cerpen ini menceritakan bahwa Sulastri memiliki kehidupan yang menyedihkan, akan tetapi dibalik kehidupannya tersebut Sulastri memiliki jiwa yang kuat dan tangguh. Sulastri sebenarnya sudah memiliki suami dan sudah memiliki seorang anak. Namaya suaminya Markam, dan nama anaknya tidak disebutkan didalam cerpen ini. Kehidupan keluarga Sulastri sangat menyedihkan dimana sang suami Markam melakukan ritual atau biasa disebut bertapa yang sebenarnya diajaran agama sah-sah saja selagi tidak menyimpang dari ajaran. Akan tetapi, pertapa yang dilakukan oleh suami Sulastri yaitu Murkam diluar jalur agama atau hal yang baik. Dimana Markam bertapa menginginkan kehadiran benda-benda pusaka, yang tak kunjung tiba, dia bertapa di salah satu kuburan yang dirimbuni pepohonan besar yang ada didesa bernama Tegal Rejo.
Dengan kebiasaan bertapa tersebut, kehidupan Sulastri dan anaknya melarat, sang suami tidak lagi bekerja, melainkan bertapa mengharapkan keajiban datang kepada kehidupannya itu. Tapi sayang, itu hanya sebuah hayalan belaka. Kebiasaan tersebut mengakibatkan Sulastri dan suaminya beradu argument, karena Sulastri sudah merasa apa yang dilakukan Murkam sudah tidak baik lagi, dan berakibat Sulastri dan anaknya jatuh bangun mempertahankan nyawanya. Sulastri sudah tidak bisa bertahan dengan kondisi seperti itu, sehingga dia merantau ke Arab. Arab merupakan salah satu negara yang memiliki banyak pekerja yang berasal dari Indonesia. Sulastri bekerja sebagai salah satu budak di Arab, berharap kehidupannya akan mendatangkan keberuntungan bagi dirinya dan anaknya, akan tetapi menjadi kehidupan Sulastri lebih menderita lagi dari sebelumnya. Sulastri ternyata budak yang illegal. Sulastri menginginkan dirinya secepatnya kembali ke Indonesia, karena dirinya sudah tidak kuat lagi berada di negeri petro dollar. Suatu hari Sulastri berada di pantai yang biasa disebut Laut Merah. Sulastri lagi berdiri diatas tanggul, dan pandangannya terarah ke laut. Seorang polisi berseragam biru tua berdiri didepan posnya. Sesekali dia meninggalkan tempatnya beberapa meter. Seketika polisi itu bertanya kepada Sulastri dengan bahasa Arab, dan Sulastri juga menjawabnya, seketika polisi itu ingin menangkapnya tetapi dengan gerak yang cepat Sulastri berlari menyelamatkan dirinya, sehingga dia lolos dari polisi itu.
Setelah lolos dari kejaran polisi tersebut, Sulastri kembali duduk memandangi laut, dengan pikiran kosong. Tiba-tiba Sulastri teringat masa lalunya, yaitu kehidupan Sulastri bersama Markam suaminya beserta anaknya. Dia teringat bagaimana Markam tidak menafkahi kehidupan rumah tangganya, karena Markam sibuk dengan menyembah hal yang tidak baik untuk kehidupan normal. Markam terus bertapa berharap pusaka ajaib itu ada digenggamanya dan merubah kehidupan yang malang dan mendatangkan kehidupan yang baik. Tapi apa yang dilakukan Markam hanya membuang waktu saja tanpa memikirkan istir dan anaknya. Ingatantersebut sangat membekas di kepala dan hati Sulastri. Itu merupakan hal yang membuat Sulastri berjuang sendiri untuk bisa menafkahi dirinya dan anaknya. Sulastri masih saja terhanyut dengan ingatan masa lalunya, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki hitam dan memiliki tubuh yang besar muncul dari perairan laut merah yang bernama Firaun. Seketika Sulastri kaget dan berlari menghindari Firaun, Sulastri merasa ketakutan, karena Firaun terus mengejarnya. Firau merupakan orang yang membayar dan membebaskan Sulastri dari perbudakan di Arab.
Sulastri terus berlari secepatnya, karena Firaun juga dengan badan yang penuh energy tersu mengejar Sulastri. Sulastri berteriak dan memanggil polisi yang tadi berusaha menangkapnya untuk meminta tolong, menghadang Firaun yang menggejarnya, tapi sayang polisi tersebut tidak menghiraukannya. Sulastri dan Firaun masih bergelut mengejar hingga Sulastri sudah merasa tidak sanggup lagi untuk berlari, ternyata Firaun sudah berada dibelakangnya tidak jauh,Firaun berhasil menjambak atau menarik rambut Sulastri sehingga rambutnya rotok. Tiba-tiba Sulastri terhenyak, didepannya muncul seorang lelaki setengah tua, rambut putih sebahu, tubuh tinggi besar, berjenggot panjang. Lelaki itu mengenakan kain putih menutupi perut hingga lutut. Ada selempang menyilang di bahu kanannya. Wajah tampak teduh dan tangan kanannya membawa tongkat dari kayu kering. Mulut Sulastri bergetar menyebut nama lelaki di hadapannya, Ya musa. Keduanya mengobrol beberapa hal antara lain tentang negara Sulastri yang memiliki kekayaan berlimpah tapi tidak dinikamti oleh rakyatnya akan tetapi dinikmati oleh pemerintah. Kemudan Firaun masih mengejar dan berusaha menangkap Sulastri, dan dia masih berusaha berlari dan tiba-tiba Sulastri oleng dan kehabisan nafas, lelaki yang di panggilnya tadi bernama Musa tiba-tiba muncul lagi dihadapannya. Tapi hadir sebagai siluet yang samar. Sulastri meraih dan memeluknya sebagai jalan terakhir untuk menyelamatkan diri dari kejaran Firaun. Saat itu juga Sulastri merasakan ada benda di genggamannya, makin nyata dan nyata. Benda itu adalah tongkat. Sulastri memegangnya kuat-kuat dengan kedua tangannya. Angin bertiup amat kencang mengelilingo tubuh Sulastri. Dia merasakan tubuhnya ringan, dia berbalik arah, seketika Firaun menyeringai dan hendak menerkam Sulastri, dengan cepat Sulastri memukulkan tongkatnya ke tubuh Fiiraun. Seperti sebuah tembikar yang pecah, tubuh Firaun jadi berkeping-keping di pasir.
Berdasarkan ringakasan isi cerpen tersebut yang saya uraikan, ada beberapa aspek yang memiliki hubungannya dengan cerpen ini yaitu ideology, politik, sosial, ekonomi, budaya dan religi. Berikut ini akan dijelaskan dari segi tersebut.
1. Religi
“Suamimu seorang penyembah berhala. Mengapa kau bergantung padanya?”
Kutipan percakapan antara Sulastri dan Musa tersebut merupakan tamparan keras bagi Sulastri. Sulastri meminta tolong kepada Musa, akan tetapi Musa tidak bisa menolongnya karena Musa merasa bahwa apa yang dilakukan oleh suami Sulastri yaitu Murkan sudah menyimpang dari ajaran agama. Murkam seorang penyembah berhala, dan itu merupakan hal yang tidak sama sekali diajarkn agama dan tidak diperbolehkan untuk melakukan sembah berhala. Di kehidupan saat ini, masih banyak orang yang melakukan hal yang sama seperti suami Sulastri yaitu menyembah berhala. Contoh yang nyata yang saya rasakan dan saya lihat sendiri, di kampung halaman saya, ada berapa masyarakat yang memilki kekuatan gaib untuk melakukan hal yang tidak baik kepada sesame, seperti menyembah dikebun, membawah telur ayam kampung, menyembah di kuburan dan itu semua demi sesuatu hal yang menyimpang norma agama. Hal tersebut sangat disayangkan, karena merugikan diri sendiri dan orang lain. Padahal jika kita percaya kepada Tuhan dan taat kepadanya, maka kehidupan kita pasti berjalan dengan baik dan penuh sukacita. Intinya kehidupan kita yaitu, berdoa, bekerja dan berusaha.
2. Politik
Sulastri tahu, polisi tak akan menangkapnya tanpa imbalan. Dia hanya menghindar sesaat dari tindakan fisik. Polisi tak mungkin menyerahkannya pada kedutaan untuk dideportasi. Seperti juga teman-teman senasib, Sulastri menggelandang. Kalau ingin ditangkap dan dideportasi, dia harus bergabung dengan beberapa teman, mengumpulkan uang setidaknya seribu real per orang, lalu diserahkan pada para perantara yang bekerja ala mafia. Para perantara inilah yang akan menghubungi polisi agar menangkap sekumpulan orang yang sudah diatur tempat dan waktunya. Dari seribu real per orang, konon polisi akan mendapat tujuh ratus real per orang, sisanya untuk para perantara. Polisi akan mengirim orang-orang tangkapan ini ke kedutaan dengan surat deportasi. Kedutaanlah yang berkewajiban menerbangkan mereka ke tanah air. Celakanya, ketika uang sudah diserahkan tapi penangkapan tak kunjung tiba. Lebih celaka lagi, para perantara ternyata berasal dari negeri Sulastri sendiri.
Kutipan tersebut merupakan salah satu bagian dari politik yang sangat kejam. Dimana seharusnya negara sendiri yang lebih melindungi masyarakatnya, akan tetapi negara sendiri yang membuat masyarakatnya tersiksa. Di kehidupan saat ini, tidak terlalu jauh dari isi kutipan tersebut. Dimana banyak permasalahan antara pemimpin yang rakus akan kekayaan seenaknya memperbudak masyarakatnya. Contohnya, kasus pemerasaan yang banyak dilakukan oleh polisi, saat tilang. Lurah yang melakukan pungli kepada masyarakat dan masih banyak lagi.
3. Ekonomi
“Kau bukan Siddhartha, sang pertapa Gotama dari Kerajaan Sakya yang pergi
bertapa meninggalkan kemewahan. Istri dan anaknya ditinggal dengan harta berlimpah. Tapi kau meninggalkan kemelaratan untuk aku dan anak-anak!”
Kutipan tersebut merupakan pembicaraan Sulastri dengan suaminya. Dimana Sulastri sudah merasa muak dengan apa yang dilakukan oleh suaminya yaitu terus bertapa untuk mendapatkan keris ajaib dan mengubah hidup mereka, akan tetapi tak kunjung terjadi. Apa yang dilakukan oleh Murkam yang hanya bertapa tanpa bekerja untuk menghidupi keluarganya, sehingga Sulastri dan anaknya melarat dan kebutuhan ekonomi tidak terpenuhi. Hal tersebut juga banyak terjadi dikehidupan saat ini, dimana banyak orang yang hanya duduk manis, hanya mengandalkan meminta-minta tanpa bekerja. Mereka setiap hari kesana kemari mengulurkan tangan untuk meminta tanpa bekerja, padahal kondisi fisik mereka masih sehat dan masih sangat bisa bekerja. Hasil dari itu akan diguanakan untuk memenuhi kehidupan ekonominya. Padahal mereka tidak merasakan orang lain banting tulang dan giat bekerja untuk mendapatkan sesuap nasi.
4. Sosial
Kehidupan sosial yang dirasakan Sulastri sangatlah menyedihkan. Dimana masyarakat disekitarnya tidak membantu meringankan beban yang dirasakannya atau tidak saling berinteraksi sesama. Akan tetapi menurut saya, di kehidupan saat ini juga seperti di dalam cerpen tersebut. Contohnya yaitu di kota besar seperti di Surabaya ini berbeda jauh dengan kampung halaman saya, dimana tetangga di sini tidak saling kenal atau saling sama dan tidak berinteraksi sosial sama sekali, mungkin karena kesibukan atau dengan beberapa alasan. Tapi yang terjadi di kampung halaman saya, tetangga rumah sangat dekat sekali, seperti dianggap keluarga sendiri meskipun sebenarnya tidak ada hubungan. Alangkah lebih baiknya jika kita saling membantu bisa meringankan beban sesama dan mendapat pahala.
5. Idiologi
Dalam cerpen tersebut, seharus juga dari awal Sulastri membantu suaminya untuk bekerja, mencukupi kebutuhan rumah tangga. Karena menurut saya, seorang perempuan seharusnya bisa mencari uang, tanpa bergantung kehidupan dengan laki-laki. Di dalam kehidupan sehari-hari saat ini, saya merasa bangga dengan perempuan, dimana mempunyai jiwa semangat yang tinggi mencari uang atau menjadi wanita karir, untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya. Itu merupakan suatu hal yang sangat bagus dan baik.
Dari ulasan cerpen diatas, ada beberapa amanat yang kita harus ingat dan dijalankan, yaitu :
1) Dalam hal apapun kita harus berdoa kepada Tuhan, bukan menyembah hal goib, yang akan merugikan diri kita sendiri.
2) Jangan menggantungkan hidup kita pada orang lain. Selagi kita memiliki fisik yang baik, kita harus bekerja sebaik mungkin.
3) Dalam melakukan sesuatu kita harus menjadi manusia yang jujur, bertanggungjawab dan pekerja keras.
4) Dalam melakukan sesuatu harus semangat dan percaya apa yang dilakukan dengan niat yang baik akan mendapatkan hal yang baik juga.
Komentar
Posting Komentar